Kebiasaan Bermain Ponsel Sebelum Tidur Bisa Ganggu Mata dan Kualitas Istirahat, Digital Detox Jadi Solusinya
- Freepik
VIVA Tangerang – Menutup laptop setelah bekerja seharian bukan berarti mata dan otak langsung mendapatkan waktu untuk beristirahat. Banyak orang justru melanjutkan aktivitas dengan bermain media sosial, menonton video, atau membaca berbagai informasi melalui ponsel hingga larut malam. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat membuat mata semakin lelah dan kualitas tidur menurun.
Dilansir Hindustan Times, pakar gaya hidup integratif Luke Coutinho mengingatkan pentingnya menerapkan digital detox sebelum tidur sebagai salah satu cara sederhana untuk menjaga kesehatan mata sekaligus meningkatkan kualitas istirahat. Menurutnya, tubuh membutuhkan jeda dari paparan layar elektronik agar dapat menjalankan proses pemulihan secara alami.
Coutinho mengatakan dirinya telah lebih dari 15 tahun menangani berbagai persoalan terkait gaya hidup, stres, kualitas tidur, dan proses pemulihan tubuh. Dari pengalamannya tersebut, ia menemukan pola yang hampir selalu sama. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam bekerja di depan komputer, kemudian mengakhiri hari dengan kembali menatap layar ponsel selama satu jam atau bahkan lebih.
Kondisi itu membuat mata tidak pernah benar-benar beristirahat. Meski perangkat yang digunakan berbeda, organ penglihatan tetap dipaksa fokus pada objek dalam jarak dekat sehingga otot mata terus bekerja tanpa kesempatan untuk rileks.
Menurut Coutinho, pemulihan mata dan tubuh baru dapat terjadi ketika seseorang berhenti menggunakan perangkat digital, berada di lingkungan dengan pencahayaan yang lebih redup, serta memperoleh tidur yang cukup. Saat malam hari, tubuh secara alami merespons kondisi gelap dengan meningkatkan produksi hormon melatonin yang berperan penting dalam mengatur siklus tidur.
Jika seseorang terus terpapar cahaya dari layar ponsel, tablet, maupun komputer, proses pembentukan melatonin dapat terganggu. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit merasa mengantuk, waktu tidur mundur, dan kualitas istirahat ikut menurun.
Ia juga menilai penggunaan night mode atau mode malam pada perangkat elektronik bukanlah solusi yang sepenuhnya efektif. Walaupun fitur tersebut mampu mengurangi intensitas cahaya biru, otak tetap menerima berbagai rangsangan dari notifikasi, pesan, video, media sosial, hingga informasi yang terus muncul di layar. Rangsangan inilah yang membuat otak tetap aktif meski waktu tidur sudah tiba.