Diet Makan Sekali Sehari Dinilai Berisiko bagi Kesehatan, Ahli Gizi Ungkap Dampaknya pada Kantung Empedu

Ilustrasi keracunan makanan
Sumber :
  • Pixabay

VIVA Tangerang – Tren diet untuk menurunkan berat badan terus berkembang, salah satunya adalah metode One Meal A Day (OMAD) atau makan hanya satu kali dalam sehari. Pola makan ini merupakan bagian dari puasa intermiten yang mengatur waktu makan dan puasa dalam satu hari. Meski dianggap efektif untuk mengurangi asupan kalori, para ahli mengingatkan bahwa diet ekstrem seperti OMAD berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan jika dilakukan dalam jangka panjang.

img_title Mulai Usia 30 Tahun Massa Otot Bisa Menurun, Ini Cara Menjaganya agar Tetap Kuat

Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kemungkinan gangguan pada kantung empedu, organ yang memiliki peran penting dalam membantu proses pencernaan lemak. Karena itu, masyarakat yang ingin menjalani program penurunan berat badan disarankan tidak hanya berfokus pada hasil cepat, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Dilansir Hindustan Times, seorang ahli gizi, Dasha, mengungkapkan bahwa dirinya melihat semakin banyak kasus gangguan kantung empedu pada orang-orang yang menerapkan puasa intermiten dengan pola makan yang sangat ketat, termasuk metode makan satu kali sehari.

img_title Rayakan HUT RI, Pemkot Tangerang Gelar Beragam Program Gratis dan Diskon untuk Warga

Menurutnya, kantung empedu bertugas menyimpan dan melepaskan cairan empedu yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna lemak dari makanan. Ketika seseorang makan secara teratur, organ tersebut akan mengeluarkan empedu sesuai kebutuhan pencernaan.

Namun, jika seseorang hanya makan sekali dalam sehari, cairan empedu cenderung tersimpan terlalu lama di dalam kantung empedu. Kondisi tersebut dapat memicu terbentuknya endapan empedu atau biliary sludge, yang lama-kelamaan dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu empedu.

img_title Latihan Kekuatan untuk Wanita Disebut Bantu Jaga Keseimbangan Hormon dan Kesehatan Tubuh

"Empedu akan dilepaskan saat kita makan untuk membantu mencerna lemak. Jika frekuensi makan sangat jarang, empedu akan lebih lama mengendap di kantung empedu sehingga risiko terbentuknya batu empedu menjadi lebih besar," jelas Dasha, seperti dikutip dari Hindustan Times.

Selain meningkatkan risiko gangguan pada kantung empedu, pola makan yang terlalu ekstrem juga dapat memengaruhi tingkat energi tubuh. Saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dalam waktu yang sangat lama, sebagian orang dapat mengalami rasa lemas, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan produktivitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Halaman Selanjutnya
img_title