5 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-Diam Bisa Meningkatkan Hormon Stres
- VIVA
VIVA Tangerang – Stres tidak selalu muncul hanya karena tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau aktivitas yang berat. Dalam kehidupan sehari-hari, sejumlah kebiasaan yang sering dianggap sepele ternyata dapat ikut memengaruhi respons stres tubuh.
Salah satu hormon yang berperan dalam respons tersebut adalah kortisol. Hormon ini kerap disebut sebagai hormon stres karena kadarnya dapat meningkat ketika tubuh menghadapi tekanan. Pada kondisi normal, kortisol memiliki fungsi penting, termasuk membantu tubuh merespons situasi yang membutuhkan kewaspadaan.
Namun, pola hidup tertentu dapat membuat kadar kortisol tetap tinggi atau mengganggu ritme normalnya. Jika terjadi terus-menerus, kondisi tersebut dapat berdampak pada kualitas tidur, suasana hati, metabolisme, hingga proses pemulihan tubuh.
Dilansir Hindustan Times, Dokter ahli anestesi dan pengobatan nyeri, Kunal Sood, menjelaskan bahwa peningkatan kortisol tidak selalu dipicu oleh satu penyebab besar. Berbagai tekanan dan kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari dapat menumpuk dan membuat sistem respons stres tubuh terus aktif.
Salah satu kebiasaan yang dapat memengaruhi keseimbangan kortisol adalah kurang tidur. Waktu istirahat yang cukup berperan penting dalam membantu tubuh menurunkan kadar hormon stres, terutama pada malam hari. Sebaliknya, tidur yang kurang dapat membuat kadar kortisol meningkat dan menyebabkan tubuh lebih mudah merespons tekanan pada hari berikutnya.
Selain durasi tidur, kualitas istirahat juga perlu diperhatikan. Tidur yang sering terganggu dapat membuat tubuh tidak memperoleh waktu pemulihan yang optimal. Jika kondisi ini berlangsung secara berulang, seseorang bisa merasa lebih mudah lelah dan sulit menjaga kondisi emosional tetap stabil.
Kebiasaan lain yang juga dapat memicu peningkatan respons stres adalah olahraga secara berlebihan tanpa diimbangi waktu pemulihan yang cukup. Aktivitas fisik memang dapat meningkatkan kortisol untuk sementara waktu, tetapi dalam kondisi normal kadarnya akan kembali turun setelah tubuh beristirahat.
Masalah dapat muncul ketika intensitas atau frekuensi olahraga terlalu tinggi dan tidak disertai pemulihan yang memadai. Alih-alih memberikan manfaat optimal, latihan berlebihan justru dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi tertekan dan mengganggu keseimbangan respons stres.