China Minta AS Akhiri Embargo terhadap Kuba, Sebut Sanksi Picu Penderitaan Rakyat Selama Puluhan Tahun
- ANTARA
VIVA Tangerang – Pemerintah China kembali mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan kebijakan embargo, sanksi, dan berbagai bentuk tekanan terhadap Kuba. Beijing menilai kebijakan yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade itu telah memberikan dampak serius terhadap kehidupan masyarakat Kuba dan melanggar hak negara tersebut untuk berkembang.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers harian di Beijing. Ia menegaskan bahwa China tetap konsisten mendukung Kuba dalam mempertahankan kedaulatan nasional serta menolak segala bentuk campur tangan dari pihak luar.
Menurut Mao, embargo dan sanksi sepihak yang diterapkan Amerika Serikat telah menyebabkan berbagai kesulitan bagi rakyat Kuba. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir, Washington dinilai kembali memperketat kebijakan pembatasan terhadap negara Karibia tersebut sehingga memperburuk kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
"China menentang sanksi sepihak yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional. Kami mendesak Amerika Serikat untuk segera mengakhiri blokade, tekanan, dan langkah-langkah koersif terhadap Kuba," ujar Mao.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel kembali mengkritik embargo yang diberlakukan AS. Ia menyebut tekanan ekonomi yang diterapkan Washington telah mencapai tingkat yang "tidak tertahankan" dan bahkan menyamakannya dengan tindakan yang mengarah pada genosida.
Pemerintah Kuba juga telah mengajukan permintaan agar Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang khusus untuk membahas dampak embargo yang masih diberlakukan Amerika Serikat terhadap negaranya.
Mao mengatakan bahwa kebijakan embargo yang telah berlangsung lebih dari 60 tahun telah memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat Kuba. Menurutnya, pembatasan tersebut tidak hanya menghambat pembangunan ekonomi, tetapi juga mempersulit masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar.
Ia menilai langkah terbaru Amerika Serikat yang memperketat sanksi semakin memperburuk kondisi kehidupan warga Kuba dan menimbulkan keprihatinan dari komunitas internasional.
China, lanjut Mao, secara konsisten menolak penerapan sanksi sepihak yang tidak didasarkan pada hukum internasional. Beijing juga meminta Washington menghormati hak rakyat Kuba untuk menentukan masa depan dan melaksanakan pembangunan tanpa tekanan dari negara lain.