IRGC Sebut Iran Siap Hadapi Konflik Panjang dengan AS, Perang Bisa Berlanjut hingga Pemerintahan Berikutnya

Sistem pertahanan udara Bavar-373 militer Iran.
Sumber :
  • VIVA

VIVA Tangerang – Iran menyatakan kesiapannya menghadapi konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS) demi menciptakan efek jera dan memastikan keamanan negaranya dalam jangka panjang. Pernyataan tersebut disampaikan penasihat utama komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Mohammad Reza Naqdi, di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara kedua negara.

img_title IRGC Klaim Teknologi Canggih AS Tak Mampu Lolos dari Pengawasan Iran di Selat Hormuz

Dalam wawancara dengan PBS, Naqdi mengatakan Iran perlu membangun kemampuan pencegahan yang cukup kuat agar pihak lain berpikir ulang sebelum mengambil tindakan militer terhadap negaranya. Menurut dia, salah satu cara untuk menciptakan efek jera tersebut adalah memastikan bahwa setiap serangan terhadap Iran membawa konsekuensi yang besar bagi pihak penyerang.

Naqdi bahkan menyebut Iran siap menghadapi perang dalam jangka waktu panjang. Ia mengatakan konflik tersebut dapat berlangsung hingga masa jabatan presiden AS berikutnya apabila diperlukan untuk mencapai tujuan strategis Iran.

img_title IRGC Iran Klaim Serang Tiga Kapal Tanker di Selat Hormuz, Kapal Terafiliasi AS Turut Jadi Sasaran

Menurut Naqdi, langkah tersebut diperlukan agar pihak yang berencana menyerang Iran memahami bahwa tindakan militer akan menimbulkan kerugian dan konsekuensi yang tidak ringan.

Ia juga menilai kemampuan militer Amerika Serikat ternyata lebih lemah dibandingkan perkiraan Iran sebelumnya. Penilaian tersebut disampaikan dalam konteks konflik dan serangkaian aksi militer yang melibatkan kedua negara.

img_title Korsel Siapkan Pengerahan Kapal dan Personel Militer ke Selat Hormuz

Pernyataan pejabat IRGC tersebut muncul setelah hubungan Iran dan AS kembali berada dalam situasi tegang. Kedua negara sebelumnya sempat mencapai kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Pada 18 Juni, Iran dan Amerika Serikat disebut telah menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari. Kesepakatan tersebut sempat membuka peluang bagi penurunan ketegangan antara Teheran dan Washington.

Namun, situasi kembali berubah beberapa pekan kemudian. Pada 8 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya disepakati tidak lagi berlaku.

Ketegangan kemudian semakin meningkat setelah Iran mengambil langkah terkait Selat Hormuz. Pada 12 Juli, pemerintah Iran mengumumkan penutupan jalur strategis tersebut hingga campur tangan Amerika Serikat di kawasan berakhir.

Selat Hormuz memiliki posisi penting dalam perdagangan energi global karena menjadi salah satu jalur utama bagi lalu lintas kapal pengangkut minyak dan gas. Setiap gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap distribusi energi dan kondisi pasar global.

Halaman Selanjutnya
img_title