Guterres Dorong AS dan Iran Kembali Berunding, PBB Khawatir Konflik Kembali Memanas

Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sumber :
  • VIVA

VIVA Tangerang – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres kembali menyerukan agar Amerika Serikat dan Iran segera kembali ke meja perundingan. Guterres mendorong kedua negara mencari jalan keluar melalui diplomasi untuk menghentikan konflik dan mencapai kesepakatan yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

img_title IRGC Klaim Teknologi Canggih AS Tak Mampu Lolos dari Pengawasan Iran di Selat Hormuz

Seruan tersebut disampaikan Guterres ketika ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat. PBB menilai dialog menjadi langkah penting untuk mencegah situasi berkembang menjadi konflik militer yang lebih luas.

Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric mengatakan Guterres meminta Iran dan Amerika Serikat melanjutkan proses negosiasi sesegera mungkin. Menurutnya, pembicaraan diperlukan untuk mencari penyelesaian yang damai sekaligus berkelanjutan.

img_title IRGC Iran Klaim Serang Tiga Kapal Tanker di Selat Hormuz, Kapal Terafiliasi AS Turut Jadi Sasaran

[Guterres] mendesak Republik Islam Iran dan Amerika Serikat untuk melanjutkan negosiasi menuju penyelesaian damai dan berkelanjutan sesegera mungkin,” ujar Dujarric dalam konferensi pers, Senin.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika PBB membahas berakhirnya masa negosiasi selama 60 hari yang sebelumnya ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Periode tersebut berkaitan dengan ketentuan dalam Kesepakatan Iran yang ditandatangani di Versailles pada 18 Juni.

img_title Korsel Siapkan Pengerahan Kapal dan Personel Militer ke Selat Hormuz

Selain mendorong dimulainya kembali pembicaraan, Guterres juga meminta kedua pihak menurunkan intensitas pernyataan publik yang dapat semakin memperburuk ketegangan. Ia turut menyerukan agar Washington dan Teheran mengambil langkah untuk mencegah kembali pecahnya aksi militer.

Dorongan diplomatik PBB muncul setelah hubungan Amerika Serikat dan Iran mengalami kembali ketegangan. Pada 8 Juli, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya dicapai dengan Iran pada malam 18 Juni sudah tidak berlaku.

Situasi tersebut kemudian diikuti oleh serangkaian tindakan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Komando Pusat AS menyatakan serangan yang dilakukan merupakan respons terhadap tindakan Iran yang dituduhkan menyasar kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan Selat Hormuz.

Iran kemudian memberikan respons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai wilayah Timur Tengah. Pemerintah Iran juga menuduh Washington telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah dicapai.

Meningkatnya aksi saling serang tersebut membuat kekhawatiran terhadap eskalasi konflik kembali muncul. Kondisi ini juga menjadi perhatian internasional karena konflik yang melibatkan dua negara tersebut berpotensi berdampak lebih luas terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Halaman Selanjutnya
img_title