Jangan Anggap Sepele, Kesepian Berkepanjangan Ternyata Bisa Merusak Kesehatan Otak
- VIVA
VIVA Tangerang – Kesepian selama ini lebih sering dikaitkan dengan kondisi emosional atau kesehatan mental. Namun, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampak kesepian tidak berhenti pada perasaan sedih atau kehilangan semangat. Kondisi ini juga dapat memengaruhi kesehatan otak, menurunkan fungsi kognitif, hingga meningkatkan risiko gangguan neurologis apabila berlangsung dalam waktu yang lama.
Para ahli menilai bahwa hubungan sosial memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kinerja otak. Interaksi dengan keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar bukan hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga membantu menjaga kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan.
Dilansir laman Hindustan Times, menurut Dr. Kunal Bahrani, Ketua Grup Neurologi Rumah Sakit Yatharth di India, otak membutuhkan stimulasi yang berasal dari interaksi sosial secara rutin. Berkomunikasi dengan orang lain, berbagi pengalaman, hingga menjalin hubungan yang sehat dapat membantu menjaga fungsi kognitif sekaligus mengendalikan respons tubuh terhadap stres.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mengalami kesepian dalam waktu yang lama, otak dapat berada dalam kondisi waspada secara terus-menerus. Akibatnya, tubuh memproduksi hormon stres seperti kortisol dalam jumlah yang lebih tinggi.
Peningkatan kadar hormon stres tersebut, jika terjadi berkepanjangan, dapat memberikan dampak negatif terhadap berbagai fungsi tubuh, termasuk kualitas tidur, kemampuan berkonsentrasi, daya ingat, serta suasana hati. Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup seseorang.
Sejumlah penelitian juga menemukan adanya hubungan antara kesepian kronis dengan perubahan pada beberapa bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi, proses belajar, serta kemampuan mengambil keputusan.
Selain itu, minimnya interaksi sosial membuat otak kehilangan stimulasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fleksibilitas dan ketahanan fungsi kognitif, terutama seiring bertambahnya usia.
Dr. Bahrani mengibaratkan hubungan sosial sebagai "olahraga" bagi otak. Menurutnya, percakapan, aktivitas bersama, dan hubungan yang terjalin secara berkelanjutan mampu mengaktifkan berbagai jaringan saraf di otak. Sebaliknya, ketika interaksi tersebut semakin berkurang, aktivitas otak pun ikut menurun karena tidak memperoleh rangsangan yang cukup.
Pendapat serupa disampaikan Dr. Sreenivas UM, ahli neurologi dari Apollo Speciality Hospitals di Chennai. Ia mengatakan bahwa hasil penelitian terbaru menunjukkan kesepian dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya demensia.