Tidak Semua Negara Rayakan Tahun Baru, Ini Alasannya
- Freepik
VIVA Tangerang – Tahun baru identik dengan pesta kembang api, terompet, dan makan bersama keluarga. Namun, tidak semua negara merayakan pergantian tahun pada 1 Januari. Sejumlah negara memilih kalender dan tradisi berbeda karena faktor kepercayaan, budaya, dan juga aturan negara.
Melansir dari laman Go2Tutors, Kamis (01/01/2026). Berikut beberapa negara yang tidak merayakan tahun baru pada 1 Januari:
Israel
Di Israel, 1 Januari bukan hari libur nasional karena negara ini mengacu pada kalender Ibrani untuk urusan keagamaan dan budaya, dengan Tahun Baru dirayakan pada Rosh Hashanah yang biasanya jatuh pada September atau Oktober dan menjadi momen refleksi serta pembaruan bagi warga Yahudi melalui tradisi apel dengan madu dan tiupan shofar.
Vietnam
Perhatian masyarakat tertuju pada Tết atau Tahun Baru Imlek Vietnam yang dipersiapkan selama berminggu-minggu dengan membersihkan rumah, menghias dengan bunga persik dan pohon kumquat, membeli pakaian baru, serta merayakan beberapa hari penuh dengan hidangan khas, pemujaan leluhur, dan tradisi amplop merah untuk anak-anak, sementara 1 Januari berlalu tanpa kemeriahan.
Cina
Tanggal 1 Januari di China memang menjadi hari libur nasional dengan berbagai acara hitung mundur, pesta, dan kembang api di kota besar, terutama di kalangan anak muda, namun bagi masyarakat Tionghoa perayaan terpenting tetap Festival Musim Semi atau Chunjie yang memicu migrasi tahunan terbesar di dunia saat ratusan juta orang pulang kampung, dirayakan selama 15 hari dengan dekorasi merah, petasan, pesta keluarga, dan pembagian amplop merah hingga Festival Lentera sebagai penanda pergantian tahun yang sesungguhnya.
Jepang
Tahun Baru Jepang atau Oshogatsu jatuh pada 1 Januari, tetapi perayaannya sangat berbeda dari negara Barat karena nyaris tanpa pesta malam 31 Desember. Masyarakat Jepang merayakannya dengan tenang bersama keluarga, membersihkan rumah melalui ritual oosouji, serta menyantap hidangan khas seperti mochi dan osechi ryori.
Arab Saudi
Bagi umat Muslim di Arab Saudi, Tahun Baru Gregorian lama dianggap tidak pantas karena berasal dari tradisi Barat dan tidak terkait dengan Islam, sehingga 31 Desember diperlakukan sebagai hari biasa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan besar.