Aurelie Moeremans Ungkap Pengalaman Grooming Lewat Buku Memoar Broken Strings
- Akun Instagram: @aurelie
VIVA Tangerang – Aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans membuka kisah traumatis yang dialaminya sejak remaja melalui buku memoar berjudul Broken Strings. Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan pengalaman menjadi korban grooming saat berusia 15 tahun. Pengalaman itu, menurutnya, baru benar-benar ia pahami dampak emosional dan psikologisnya ketika telah dewasa.
Pengakuan tersebut pertama kali disampaikan Aurelie melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @aurelie pada Minggu, 11 Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa buku tersebut berisi kisah nyata tentang perjalanan hidupnya, termasuk pengalaman relasi yang ia nilai tidak sehat dan penuh tekanan sejak usia belia. Aurelie menulis Broken Strings sebagai ruang refleksi untuk mengurai trauma, ketakutan, dan luka batin yang selama bertahun-tahun ia pendam.
Dalam buku itu, Aurelie mengisahkan hubungan toksik yang ia alami dengan seorang pria yang disebut menggunakan nama samaran “Bobby”. Nama tersebut digunakan sebagai identitas fiktif demi alasan pribadi dan keamanan. Ia menggambarkan bagaimana relasi tersebut diwarnai tekanan emosional yang intens, rasa takut, serta manipulasi yang terus berulang.
Aurelie menuturkan bahwa pada masa remaja ia berada dalam kondisi mental yang rentan. Tekanan yang ia alami membuatnya sulit memahami batasan yang sehat dalam sebuah hubungan. Ia juga mengungkap adanya ancaman yang digunakan untuk mengontrol dirinya, termasuk permintaan mengirimkan foto pribadi yang kemudian dijadikan alat tekanan agar ia menuruti keinginan pasangannya.
Dalam narasi buku, ia menjelaskan bahwa ancaman tersebut membuatnya merasa terjebak dan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri. Situasi itu berkembang menjadi hubungan yang semakin posesif, hingga memengaruhi keputusan besar dalam hidupnya. Ia mengaku terisolasi dari keluarga dan orang-orang terdekat, serta hidup dalam ketakutan dalam waktu yang lama.
Broken Strings juga memuat proses Aurelie dalam mencoba keluar dari lingkaran kekerasan dan kontrol. Ia menceritakan perjuangan untuk menyelamatkan diri, termasuk keberanian mengambil risiko besar demi terbebas dari hubungan yang menyakitkan. Kisah tersebut ditulis dengan gaya personal dan emosional, menyoroti proses pemulihan yang tidak singkat.
Melalui buku ini, Aurelie berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat bahwa praktik grooming dan relasi abusif bisa terjadi pada siapa saja, terutama pada usia muda. Ia juga ingin mendorong korban lain untuk berani bersuara, mencari bantuan, dan menyadari bahwa keselamatan serta kesehatan mental adalah hal yang utama.