Cap Same, Jejak Harmoni Budaya Cina Benteng di Kota Tangerang

Cap Same, Jejak Harmoni Budaya Cina Benteng
Sumber :
  • Pemkot Tangerang

VIVA Tangerang – Suasana kawasan Heritage Tangerang tampak semarak pada Minggu (1/3/2026) saat perhelatan budaya Cap Same digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan Imlek. Lebih dari sekadar penutup Tahun Baru Lunar, Cap Same hadir sebagai simbol kuat pelestarian budaya lokal sekaligus penegasan jati diri masyarakat Cina Benteng di Kota Tangerang.

img_title 5.000 Pelajar Tampilkan Jurus Silat Benteng di Stadion Benteng Reborn

Berlatar di Museum Benteng Heritage, acara ini mengangkat nilai-nilai kebangsaan yang tumbuh dari proses panjang asimilasi budaya Tionghoa dengan tradisi lokal Tangerang. Tradisi Cap Same tidak hanya merayakan identitas etnis, tetapi juga menegaskan semangat kebersamaan dalam keberagaman.

Dilansir laman resmi Pemkot Tangerang, Pendiri Museum Benteng Heritage, Udaya Halim, menyampaikan bahwa Cap Same bukanlah sekadar ritual tahunan, melainkan manifestasi filosofi hidup yang berakar pada empat nilai utama: Ketuhanan, Kebudayaan, Kebangsaan, dan Kesetaraan.

img_title Revitalisasi JPO SMPN 5 Selesai, Dua Jembatan Penyeberangan Lain Segera Menyusul

Ia menegaskan bahwa identitas budaya tidak pernah bertentangan dengan nasionalisme. Menurutnya, keberagaman justru menjadi kekuatan Indonesia sebagai bangsa besar. Kesetaraan antarmanusia, tanpa memandang latar belakang suku dan budaya, merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan yang beradab dan inklusif.

Tradisi Ciao Tao: Asimilasi yang Hidup

img_title Prakiraan Cuaca Tangerang 19–25 Oktober 2026, Hujan Ringan Mengintai Akhir Pekan

Salah satu daya tarik utama dalam perayaan Cap Same adalah ditampilkannya prosesi pernikahan adat Ciao Tao, sebuah tradisi khas masyarakat Cina Benteng yang sarat nilai asimilasi budaya lokal. Tradisi ini mencerminkan percampuran harmonis antara unsur Tionghoa dan adat masyarakat Tangerang yang telah berlangsung lintas generasi.

Ritual Ciao Tao menampilkan unsur-unsur lokal yang kental, seperti tradisi saweran menggunakan beras kuning dan koin, serta penyajian jajanan pasar khas, termasuk onde-onde. Elemen-elemen tersebut menjadi bukti bahwa budaya Cina Benteng tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama lingkungan sosialnya.

Para pemeran pernikahan adat ini menuturkan bahwa keikutsertaan mereka bukan sekadar peragaan busana, melainkan upaya menghidupkan kembali tradisi yang nyaris terlupakan. Melalui prosesi ini, masyarakat diajak mengenal bahwa asimilasi budaya dapat melahirkan identitas unik yang tidak ditemukan di daerah lain.

Warisan Budaya sebagai Aset Bangsa

Cap Same menjadi ruang refleksi bahwa budaya Cina Benteng adalah bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Indonesia. Akulturasi yang terjalin tidak hanya melahirkan tradisi indah, tetapi juga memperkuat ikatan kebangsaan di tengah perbedaan.

Halaman Selanjutnya
img_title