Gaza Hadapi Krisis Kelaparan: Toko Roti Tutup dan Bantuan Terhenti

Penduduk Gaza Palestina antre makanan.
Sumber :
  • VIVA

VIVA Tangerang – Situasi di Gaza semakin memburuk. Ketika berjalan di jalan-jalan Gaza City yang dipenuhi dengan puing-puing, Woroud Abdul Hadi, seorang ibu dengan lima anak, tidak bisa lagi mencium aroma roti yang biasa tercium dari toko-toko roti yang tersebar di kota tersebut. Sebaliknya, udara kini dipenuhi dengan bau debu dan keputusasaan.

"Di sini, roti adalah hidup. Tapi sekarang, bahkan itu sudah tidak ada," ujar Abdul Hadi dengan suara bergetar. "Yang lebih buruk, saya tidak memiliki tepung untuk memberi makan anak-anak saya," tambahnya, menggambarkan bagaimana krisis ini semakin memperburuk kehidupannya.

Abdul Hadi dan banyak keluarga lainnya di Gaza merasakan penderitaan yang sama. Semua toko roti yang biasanya didukung oleh Program Pangan Dunia (WFP) PBB telah terpaksa ditutup. Penghentian ini terjadi setelah blokade perbatasan yang berkepanjangan oleh Israel, yang menghambat pengiriman bahan bakar dan tepung. Akibatnya, pasokan makanan yang semakin menipis tidak dapat dipenuhi, sehingga menyebabkan kelaparan di seluruh wilayah Gaza.

Krisis pangan ini semakin memburuk setelah serangan udara dan darat yang dilancarkan oleh Israel pada 18 Maret 2025. Serangan ini menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, dan semakin memutuskan jalur distribusi bantuan kemanusiaan yang sudah sangat dibutuhkan oleh penduduk Gaza. Di tengah kehancuran ini, harga tepung melambung tinggi, mencapai 100 dolar AS untuk satu karung 25 kilogram, yang jelas tidak mampu dijangkau oleh mayoritas keluarga di Gaza yang sudah hidup dalam kemiskinan.

Beberapa keluarga di Gaza terpaksa menggiling biji-bijian kering atau bahkan memanggang kentang sebagai pengganti roti, meskipun alternatif ini jauh dari mencukupi kebutuhan gizi yang mereka perlukan. "Bagaimana kami bisa hidup tanpa roti?" tanya Wafaa Abu Hajir (35), seorang ibu dengan tujuh anak, yang hanya bisa menatap panci berisi sayuran rebus di rumahnya di Beit Lahia, Gaza utara.

"Kami kelaparan dan bantuan tidak datang. Perbatasan ditutup, kami tidak tahu bagaimana bertahan," tambahnya dengan putus asa.