Hubungan Modi dan Trump Memburuk Gara-Gara Isu Nobel Perdamaian

Ilustrasi Hadiah Nobel Perdamaian
Sumber :
  • ANTARA

Tangerang – Menurut laporan The New York Times pada Sabtu (30/8), sumber yang dekat dengan isu ini menyebutkan ketegangan bermula dari percakapan telepon keduanya pada 17 Juni 2025. Dalam pembicaraan itu, Trump mengklaim dirinya berperan besar dalam meredam konflik militer antara India dan Pakistan. Ia bahkan menyebut Pakistan siap mengajukan pencalonannya untuk Nobel Perdamaian.

Phumtham Wechayachai Ditunjuk sebagai Plt Perdana Menteri Thailand Gantikan Paetongtarn Shinawatra

Namun, Modi menilai Trump tidak berperan langsung dalam terwujudnya gencatan senjata tersebut. Penolakan Modi untuk memberikan dukungan inilah yang diduga menjadi faktor utama memburuknya hubungan kedua pemimpin dunia tersebut.

Ketegangan semakin terlihat ketika media Jerman, Frankfurter Allgemeine Zeitung, melaporkan bahwa Trump berusaha menghubungi Modi hingga empat kali dalam beberapa pekan terakhir. Akan tetapi, Modi dikabarkan menolak menjawab panggilan dari Presiden AS tersebut.

Mahkamah Konstitusi Thailand Copot Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra karena Pelanggaran Etika

Sebelumnya, Trump secara terbuka mengaku dirinya layak mendapatkan Nobel Perdamaian. Bahkan, sejumlah tokoh dunia memberikan dukungan, termasuk Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Menteri Luar Negeri Rwanda Olivier Nduhungirehe. Mereka menilai Trump berkontribusi dalam upaya penyelesaian berbagai konflik global.

Pada Juni lalu, Pakistan juga resmi mengajukan Trump sebagai kandidat penerima Nobel Perdamaian 2026, dengan alasan kepemimpinannya yang dinilai berperan dalam meredakan ketegangan militer dengan India.

Menlu Uni Eropa Desak AS Tinjau Ulang Larangan Visa Delegasi Palestina

Meskipun mendapatkan dukungan dari beberapa negara, sikap dingin Modi terhadap pencalonan Trump dipandang sebagai sinyal keretakan diplomatik. Hubungan kedua negara, yang sebelumnya cukup erat dalam bidang strategis dan pertahanan, kini tengah menghadapi ujian serius akibat isu Nobel ini.