10 Badan Intelijen Asing Dituding Biang Kerusuhan di Iran

Massa berdemonstrasi di Lapangan Enghelab, Teheran, Iran.
Sumber :
  • Antara

Tangerang – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menuding 10 badan intelijen asing jadi biang kerusuhan yang terjadi di negara tersebut.

img_title Iran Ancam Sasar Seluruh Pangkalan AS Jika Serangan Kembali Terjadi

IRGC merilis pernyataan resmi terkait kerusuhan yang terjadi di Iran digambarkan sebagai bagian dari "rencana Amerika Serikat-Israel" yang gagal.

Dalam pernyataannya di Sepah News, IRGC menyatakan bahwa sebuah ruang komando asing didirikan setelah konflik selama 12 hari pada Juni tahun lalu.

img_title IRGC Klaim Teknologi Canggih AS Tak Mampu Lolos dari Pengawasan Iran di Selat Hormuz

Ruang komando asing itu menciptakan kekacauan internal, memprovokasi intervensi militer, dan memobilisasi kelompok-kelompok yang dianggap sebagai ancaman.

IRGC mengklaim pihaknya telah menggagalkan rencana tersebut pada rentang Juni hingga akhir Desember 2025.

img_title Serangan Israel di Gaza Kembali Menewaskan Lima Warga Palestina, 30 Orang Terluka

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, meyebut kerusuhan sebagai "kudeta semu" yang didukung oleh AS dan Israel.

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei secara terbuka menuding Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas korban jiwa dan kerusakan besar yang terjadi dalam gelombang kerusuhan terbaru di Iran.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Khamenei dalam sebuah pertemuan di Teheran pada Sabtu, 17 Januari 2026, di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan di negara itu.

Dalam pidatonya, Khamenei menegaskan bahwa apa yang terjadi di Iran bukan sekadar aksi protes spontan, melainkan bagian dari skenario hasutan yang menurutnya melibatkan campur tangan langsung Amerika Serikat.

Ia menuding Trump tidak hanya melontarkan ancaman, tetapi juga secara aktif mendorong dan mendukung pihak-pihak yang memicu kerusuhan.

Khamenei menyebut tujuan utama Amerika Serikat dalam rangkaian peristiwa tersebut adalah melemahkan kedaulatan Iran, bahkan berupaya "menelan" negara itu secara politik dan strategis.