Kecanduan Main, Seorang Pria Menuntut Minecraft dan Fortnite
- Freepik
VIVA Tangerang – Kebanyakan orang tua akan mengoreksi anaknya apabila kecanduan bermain, dan tidak terlalu memerdulikan game yang memikat anak itu. Meski demikian, seorang pemain game kreator game karena gagal dalam mencegahnya untuk kecanduan bermain.
Dikutip dari Complex.com pada Rabu (28/01/2026), Cayden Breeden menggugat raksasa game dan teknologi Epic Games, Microsoft Corporation, dan Mojang Studios karena kecanduan bermain Fortnite dan Minecraft. Gugatan tersebut Ia ajukan dalam pengaduan setebal 56 halaman, dengan kegagalan dalam menyertakan "pengamanan" di game sebagai inti permasalahan.
"Gugatan ini bertujuan untuk meminta pertanggungjawaban setiap Terdakwa karena gagal memberikan peringatan dan gagal menyertakan pengamanan yang tersedia terhadap risiko yang diketahui terkait dengan penggunaan berlebihan produk permainan video mereka, dan malah memilih untuk menerapkan pemrograman yang menyebabkan dan memperkuat risiko-risiko ini untuk meningkatkan keuntungan Terdakwa," bunyi dari pengaduan tersebut.
Breeden menuduh ketiga perusahaan tersebut telah lalai dan menipu, di mana ia menggambarkan perilaku bisnisnya sebagai "menipu, tidak adil, tidak bermoral, dan ceroboh." Setelah bermain selama bertahun-tahun, hubungannya dengan video game menjadi "kompulsif dan tidak teratur," dan ia "tidak mampu menahan penggunaan permainan".
Ia mengaku merasakan "kemarahan, perusakan properti, perilaku kompulsif dan antisosial, serta ketidakmampuan untuk tidur." jika game itu diambil darinya. Sehingga dampak dari game ini telah berdampak secara signifikan terhadap kehidupan dan kesejahteraannya.
Atas perihal dalam tuntutan tersebut, Breeden menuntut untuk mendapatkan ganti rugi atas kerugian psikologis yang dia alami "akibat cedera parah yang diderita karena penggunaan produk gim video milik Tergugat oleh Penggugat."
Secara sederhana, dia menuntut ganti rugi atas rasa sakit dari dampak buruk yang diderita akibat kecanduan bermain, di mana sistem game tersebut tidak memberikan suatu batasan untuk menanggulanginya. Beberapa hal seperti biaya pengobatan, biaya gugatan, biaya pengacara, dan lainnya menjadi hal yang dituntut dalam aspek ekonomi.
Beragam tuntutan pemain adalah hal yang tidak jarang di lingkungan perusahaan tersebut. Tahun lalu, Shirley Baggaley, orang tua dari seorang anak di bawah umur, mengajukan gugatan ke 3 perusahaan yang sama karena banyak anak-anak dan remaja yang kecanduan akan produk yang dirancang oleh game. Rencana tersebut diduga sebagai taktik ilegal yang melacak aktivitas bermain game anak-anak dan menggunakannya untuk membangun algoritma yang mendorong pembelian dalam game.