Mengembangkan Keterampilan Kognitif melalui Tantangan dalam Video Game
- newsweek.com - pressmaster
VIVA Tangerang – Mengalahkan boss terakhir setelah berkali-kali gagal di dalam game adalah salah satu kenangan indah bagi para gamer. Sensasi kepuasan setelah frustrasi luar biasa akibat dikalahkan terus-menerus, menjadi hadiah besar bagi otak.
Beberapa video game memaksa pemain untuk memulai dari awal, atau keluar dari game untuk kembali mencoba di hari berikutnya. Tidak ada cara lain untuk menghindarinya, tetapi saat kembali mencoba; pemain akan lebih cepat, lebih pintar menyerang, dan lebih siap daripada sebelumnya.
Ini adalah keterampilan kognitif yang dibangun melalui pengulangan dalam menghadapi kesulitan, manusia belajar untuk mencari cara demi mencapai keberhasilan. Menurut beberapa sumber, ketarampilan yang mengembangkan otak secara konsisten dalam video game adalah toleransi terhadap frustrasi, keterampilan berpikir kritis, penundaan kepuasan, dan pengenalan pola.
Dikutip dari Newsweek pada Senin (09/02/2026), konselor kesehatan mental berlisensi dan mantan guru, Veronica Lichtenstein, mengatakan bahwa video game membuat pemain berjuang melewati level, menghafal pola, dan akhirnya melihat akhir cerita.
"Rasanya seperti Anda telah mencapai sesuatu. Otak Anda memberi Anda kepuasan yang solid dan tahan lama, seperti menyelesaikan proyek yang sulit," katanya.
Dewasa ini, rata-rata video game yang ramai dimainkan oleh anak-anak hingga remaja justru memanfaatkan kesulitan tersebut dalam bentuk mikrotransaksi. Veronica mengatakan bahwa sesuatu yang terlihat "gratis" terkadang adalah umpan untuk pembelian kostum, atau karakter yang mengurangi beban psikologis dalam bermain.
Contoh yang bisa dikutip adalah game "gacha" dengan "meta" karakter, yang dapat memudahkan pemain dalam melewati suatu level. Terdapat dua jenis pemain dalam konteks ini; mereka yang menginginkan suatu karakter karena tampilannya, dan mereka yang ingin suatu karakter karena menghemat waktu bermain.
Banyak yang rela mengeluarkan uang untuk mendapatkan karakter dengan kekuatan tinggi, demi menyelesaikan level secara mudah. Hal ini menjadi pedang bermata dua karena bisa dimanfaatkan sebagai tantangan manajemen kognitif otak, dan jebakan yang menyakitkan jika tidak kuat dalam menghadapinya.
Kasus yang pernah terjadi adalah anak di bawah umur, yang pemikirannya belum matang, menjadi candu dan menggunakan uang orang tua, hingga tabungan keluarga untuk bertahan hidup, karena tidak kuat dalam menghadapi stress serta godaan untuk menggunakan uang.