Tempat Sampah Pintar Berbasis AI Karya Alumni MAN IC Serpong
- VIVA
VIVA Tangerang – Inovasi teknologi terus bermunculan dari kalangan anak muda Indonesia. Salah satunya datang dari alumni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong yang menghadirkan solusi cerdas untuk persoalan klasik: sampah. Inovasi itu diberi nama Srikandi, sebuah sistem pengelolaan sampah pintar berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dirancang untuk memilah sampah secara otomatis sejak dari sumbernya.
Meski namanya identik dengan tokoh pewayangan Mahabarata yang dikenal tangguh dan berani, Srikandi versi ini hadir sebagai “pahlawan lingkungan” di era digital. Ia bukan mengandalkan busur dan anak panah, melainkan teknologi AI, Internet of Things (IoT), serta robotika untuk menjawab tantangan pengelolaan sampah yang kian kompleks, khususnya di lingkungan pendidikan.
Karya Alumni MAN IC Serpong dengan Semangat Wirausaha Teknologi
Srikandi dikembangkan oleh startup teknologi Nusabin (@nusabin.id) yang digagas oleh para alumni MAN IC Serpong. Tiga sosok muda di balik inovasi ini adalah Zhafir, Rayhan, dan Galih, alumni angkatan 22. Mereka membawa semangat kewirausahaan berbasis teknologi sekaligus kepedulian terhadap isu lingkungan yang selama ini menjadi masalah publik.
Menurut Zhafir, Srikandi dirancang sebagai sistem pemilahan sampah otomatis dari hulu, sehingga pengguna tidak perlu lagi repot memilih jenis sampah secara manual. Melalui dukungan AI dan sensor IoT, tempat sampah pintar ini mampu mengenali, memisahkan, hingga mencatat data sampah yang masuk secara real time.
“Tujuan kami adalah membuat pemilahan sampah menjadi sederhana, efisien, dan bisa dilakukan siapa saja. Kami ingin membangun kebiasaan baik tanpa membebani penggunanya,” ujar Zhafir. Konsep tersebut sejalan dengan tagline Nusabin, #ItMustBeSimple!, yang menjadi filosofi utama pengembangan produk.
Dari Madrasah untuk Dampak yang Lebih Luas
Rayhan menambahkan, lahirnya Srikandi berangkat dari keinginan alumni untuk memberi dampak nyata, dimulai dari lingkungan tempat mereka tumbuh dan menimba ilmu. MAN IC Serpong dipilih sebagai titik awal penerapan inovasi ini, bukan hanya karena faktor emosional, tetapi juga sebagai laboratorium sosial untuk menguji efektivitas teknologi di lingkungan pendidikan.