Usai Kontrak Diputus, Mantan Konsultan Cloud Singapura Hapus 180 Server

Ilustrasi Sedang Bekerja
Sumber :
  • Freepik

VIVA Tangerang – Sebuah insiden keamanan siber yang merugikan National Computer Systems (NCS) Singapura terungkap ke publik. Seorang mantan konsultan cloud perusahaan itu dilaporkan menghapus 180 server virtual setelah kontrak kerjanya diputus.

img_title Singapura Desak AS untuk Menahan Diri dalam Intervensi di Venezuela

Kasus ini melibatkan mantan karyawan kontrak yang sebelumnya bertugas di tim pengelola sistem jaminan kualitas komputer NCS. Sistem tersebut berfungsi sebagai lingkungan pengujian perangkat lunak sebelum dirilis ke publik. NCS menyebut kelalaian prosedur internal menjadi pemicu utama insiden ini.

“Karena kelalaian manusia dalam mengelola lingkungan pengujian mandiri, akses pelaku ke lingkungan pengujian tidak segera dihentikan setelah dia meninggalkan perusahaan,” ujar pihak NCS, dikutip dari CNA, Selasa (30/12/2025).

img_title Kebakaran Bar Saat Tahun Baru di Resor Ski Swiss, 10 Orang Tewas

Insiden beawal pada saat pelaku diberhentikan pada Oktober 2022. Namun, hak akses administratifnya tidak langsung dicabut. Celah ini dimanfaatkan untuk mengakses sistem internal NCS secara ilegal sebanyak enam kali sepanjang Januari 2023.

Selama periode tersebut, pelaku mempelajari infrastruktur sistem dan menguji skrip penghapusan server secara bertahap. Ia berupaya memastikan aksinya tidak terdeteksi sistem keamanan internal.

img_title Perampokan Bank di Jerman Saat Libur Natal

Untuk menyamarkan jejak digital, pelaku menyewa kamar bersama mantan rekan kerjanya di Singapura dan menggunakan jaringan WiFi yang sama. Cara ini membuat aktivitas peretasan terlihat seolah berasal dari kredensial karyawan aktif.

Serangan puncak terjadi pada Maret 2023. Pelaku mengeksekusi skrip khusus yang menghapus 180 server virtual satu per satu. Ia memilih akhir pekan agar gangguan tidak segera terdeteksi. Kerusakan baru diketahui manajemen pada awal pekan berikutnya.

Dampak finansial insiden ini mencapai lebih dari S$917.832 atau sekitar Rp12 miliar. Nilai tersebut mencakup biaya pemulihan sistem dan penanganan teknis. Pengadilan Singapura menjatuhkan hukuman penjara dua tahun delapan bulan kepada pelaku pada Juni 2024.

Pihak NCS menyatakan telah memperketat proses dan kontrol keamanan internal. NCS menerapkan kebijakan toleransi nol terhadap pelanggaran seperti ini dan mengharapkan seluruh personel bertindak dengan integritas dan kejujuran.

Kasus ini menjadi pengingat bagi perusahaan teknologi agar segera menonaktifkan akses digital setiap karyawan yang keluar, memperkuat pengawasan sistem, serta menempatkan keamanan siber sebagai prioritas utama untuk mencegah kerugian besar dan gangguan operasional serupa.