Ketika AI dibenci oleh Komunitas Gamers
- ANTARA/Xinhua/Huang Zongzhi/aa.
VIVA Tangerang – AI atau Artificial Intelligence merupakan program pintar yang dibuat untuk mengembangkan keterbatasan manusia. Kendati demikian, banyak komunitas yang membenci jika seorang kreator menggunakan AI dalam karyanya. Bahkan game Clair Obscure: Expedition 33 kehilangan penghargaan akibat menggunakan kecerdasan buatan.
Dikutip dari laman Indiegameawards dan Polygon pada Senin (22/12), panitia Indie Game Awards mencabut penghargaan G.O.T.Y (Game Of The Year) dan Debut Game dari Clair Obscure karena menggunakan AI dalam beberapa tekstur dalam gamenya.
Meskipun hanya bertahan selama beberapa hari saat rilis sebelum dipatch, pihak penghargaan itu kokoh untuk mendiskualifikasi game yang tadinya meraup lebih dari 1 nominasi. Sehingga G.O.T.Y digantikan oleh "Blue Prince" dan Debut Game diberikan kepada "Sorry We're Closed".
Sebelumnya, dikutip dari Aftermath, salah satu pendiri dari laman itu mengungkap banyak video game yang menggunakan kecerdasan buatan sebagai aset, seperti Jurassic World Evolution 3, Kaiserpunk, dan The Alters. Semua konten yang terbuat dari AI disebut sebagai pencuri dari konten yang orang lain ciptakan.
Selain itu, AI dalam konteks konten kreatif dijuluki Plunkett sebagai suatu kemalasan, kejelekan, dan didorong oleh orang "berkelas" dalam menyingkirkan beberapa pekerja. Studio game manapun yang menggunakan teknologi itu dianggap memberikan pesan tersirat bahwa mereka tidak peduli dengan dampak yang ditimbulkan terhadap industri game, tidak peduli akan kualitas konten AI yang buruk, abai terhadap jutaan orang yang memiliki potensi sebagai penggemar, hingga buang muka di saat pelanggan mereka menentang akan penggunaan konten dari kecerdasan buatan.
Penggemar game yang berkontribusi dalam laman artikel itu jengkel dengan fakta bahwa dampak yang ditimbulkan AI kepada industri game sangat memengaruhi kenikmatannya dalam bermain. Situasi ini digambarkan seperti awal mula perkembangan ideologi fasisme, di mana itu akan terus ada meskipun dibenci oleh orang-orang.
Pada akhirnya, Plunkett menginginkan tiap individu dan tim yang menggunakan konten dari penciptaan AI untuk aset game mereka sadar, bahwa setiap detik dan uang yang mereka hemat dari penggunaan teknologi itu akan berdampak pada pemain yang bosan dalam melihat konten yang dibuat tanpa usaha yang signifikan.