Perkembangan Demografis di Era Video Game
- Pexels
VIVA Tangerang – Di antara semua perubahan yang terjadi dalam industri video game, pergeseran demografis merupakan hal penting yang tidak terlalu dinotis oleh pemain. Zaman dahulu kala, video game merupakan suatu kemewahan yang dibuat khusus untuk mereka yang kaya raya.
Dewasa ini, stereotip tersebut sudah tidak relevan dan beragam kalangan sudah menikmati keseruan dari bermain video game. Menurut Superjumpmagazine.com dan beragam sumber lainnya, berikut adalah pengelempokan era perkembangan video game yang menilik genre standar, lokasi, budaya di sekitar, dan keadaan ekonomi yang sering berubah.
Sebagai penafian, pengelompokan ini tidak berpatok pada pembagian era generasi, namun lebih ke informasi spesifik yang kemungkinan tumpang tindih.
Sebelum 1960: Pengalaman yang Minim
Orang-orang dalam kelompok ini hampir tidak memiliki pengalaman, di permainan elektronik saat tumbuh dewasa. Video game bukanlah bagian dari masa kecil mereka. Kemungkinan besar bahwa mereka baru belajar mengenai dari anak atau cucu.
Meski demikian, sudah banyak orang yang tumbuh di era ini telah bermain video game modern. Banyak bukti yang dapat ditemukan di media sosial, seperti Kakek pensiunan tentara yang jago menembak di game Battlefield, nenek yang selalu berlatih di simulasi FPS, hingga nenek bermain Minecraft untuk mengumpulkan donasi.
1960-1973: Era Arkade
Dikenal sebagai "Zaman Keemaasan Arkade", periode pertumbuhan dan inovasi di era ini berkembang pesat, utamanya di pasar mesin arkade. Bagi orang Indonesia waktu itu, mesin ini disebut sebagai 'mesin ding-dong'.
Arkade di zaman ini menarik beragam pengunjung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa mencoba untuk bermain di tempat seperti restorang, mall, hingga tempat bermain khusus. Di Indonesia, tempat bermain arkade ini dikenal dengan nama seperti TimeZone, FunWorld, dan lainnya.
1971-1978: Perkembangan Konsol Game
Mereka yang tumbuh di era ini mulai merasakan perkembangan konsol yang semakin canggih, dengan resolusi 8-bit yang murah nan revolusioner pada masanya. Harga yang terjangkau itu memperbolehkan adanya "gaming" di rumah.
Kendati demikian, mereka juga merasakan keruntuhan konsol Atari pada tahun 1983. Peristiwa ini bukan hanya efek dari menurunnya ekonomi, tetapi juga efek dari perubahan dalam video game, dari hiburan nasional menjadi hobi khusus anak kecil.

