Perlawan Rusia Terhadap Stereotipe dalam Game "Call of Duty"

Misi CoD MW2 bertajuk No Russian
Sumber :
  • Call of Duty: Modern Warfare 2

VIVA Tangerang – Call of Duty merupakan game buatan studio Infinity Ward, yang ditemukan oleh Vince Zampella dan Jason West. Pemain berperan sebagai seorang tentara yang berjuang demi kemenangan. Rata-rata judul game ini mengambil sudut pandang negara barat yang melawan Jepang, German, Rusia, dan negara lain saat perang dunia.

img_title AS Perketat Tekanan: Strategi Baru Sanksi untuk Rusia dan Iran Terus Digodok

Selain menjadi antagonis, misi bertajuk "No Russian" di seri Modern Warfare ke 2 sempat menjadi kontroversi bagi masyarakat Rusia, karena tujuan yang harus pemain capai. Bersama dengan Makarov dan antek-anteknya, pemain ditugaskan untuk menembak mati seluruh orang, termasuk masyarakat sipil, yang berada di bandara internasional Zakhaev, Moskow.

Dikutip dari Gazeta.ru pada Jum'at (23/01/2026), meskipun bertujuan untuk mengenang tragedi 11 September, penggambaran tersebut menjadi salah satu alasan Deputi Duma, Mikhail Delyagin, menuduh kreator Call of Duty telah menumbuhkan propaganda "Russophobia". Di mana semua pihak yang menyangkut negara Rusia digambarkan "selalu" menjadi "orang jahat" di dalam video gamenya.

img_title 5 Rekomendasi Film Religi untuk Mengisi Akhir Pekan Selama Ramadan

Rusia ingin menghilangkan stereotipe itu dengan membuat game "Call of Duty"nya sendiri. Berbanding terbalik dengan video game rilisan Activision, permainan simulasi peperangan itu akan membuat pihak AS, Inggris, dan Ukraina sebagai "orang jahat".

Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Kementrian Pengembangan Digital, game tembak-menembak alternatif buatan dalam negeri itu dapat berjalan, meski memakan dana sekitar 10 miliar rubel (sekitar 2.214 miliar rupiah).

img_title Tips Menjalani Puasa Ramadan agar Tetap Produktif Sepanjang Hari

"Jika IRI (Institut Razvitiya Interneta) menerima permohonan pendanaan untuk pengembangan gim dengan topik yang disebutkan dalam surat Anda, permohonan tersebut akan ditinjau sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dalam kerangka mekanisme kompetitif yang ada," tulis Kementrian Pengembangan Digital dalam suratnya.

Menurut laporan Tweaktown.com, Rusia berencana untuk menginvestasikan sekitar 128 juta dollar AS beserta insentif pajak untuk mengembangkan game tersebut. Hal ini menandakan bahwa pengembangan game tersebut mendapat dukungan penuh dalam rangka melawan propaganda dan membersihkan nama baik Rusia.

Sebelumnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahkan pernah memerintahkan perusahaan teknologi dalam negeri untuk menciptakan berbagai konsol yang mampu menyaingi konsol buatan Microsoft, Sony, dan Nintendo.