Serikat Pekerja Ubisoft Menyerukan Aksi Mogok Kerja
- Tangkapan Layar Pribadi
VIVA Tangerang – Lima serikat pekerja Ubisoft di Prancis mendorong seluruh pekerja untuk bergabung dalam aksi "mogok internasional besar-besaran" pada tanggal 10-12 Februari, sebagai ekspresi penolakan terhadap kebijakan kembali ke kantor selama lima hari, serta pemangkasan biaya yang meluas di salah satu raksasa game tersebut.
Kelima serikat yang terdiri dari STJV, Solidairies Informatique, CGT, CFE-CGC, dan Printemps Ecologique, menyerukan hal itu melalui postingan di media sosial Bluesky.
Seruan itu berisi ajakan dengan alasan di balik aksi tersebut. Beberapa di antaranya adalah demi melindungi mereka yang menjadi pondasi dasar dari berjalannya perusahaan, kejanggalan dalam manajemen perusahaan yang telah berdiri sejak 1986, dan tuntutan untuk memperbolehkan kerja di mana saja (remote work).
"Pada 21 Januari 2026, Yves Guillemot mengumumkan berakhirnya kerja jarak jauh, penutupan beberapa studio, pembatalan proyek, dan rencana 'penghematan biaya' baru senilai €200 juta. Kami diberitahu tentang hal ini bersamaan dengan pers—karena tidak satu pun dari perubahan ini dibahas selama konsultasi wajib dengan dewan pekerja beberapa hari sebelumnya," bunyi paragraf pertama dari pernyataan tersebut.
Serikat pekerja menuduh pihak manajemen Ubisoft, secara aktif, sedang merusak kreativitas para karyawan, mengacaukan masa depan studio naungannya, serta mengubah kebutuhan akan dialog yang konstruktif.
Mereka juga mengklaim bahwa pimpinan memperlakukan karyawan seperti "anak-anak yang perlu diawasi" dengan penerapan mandat kembali ke kantor, dan menggambarkan langkah tersebut sebagai "keputusan sewenang-wenang" yang mengotori kesepakatan kerja jarak jauh, yang telah berlaku di beberapa studio internal sejak September 2025.
"Kita diberi tahu tentang tanggung jawab, tetapi mereka yang dengan mudah menggunakan kata ini tidak memikul tanggung jawab apa pun atas konsekuensi dari pengelolaan mereka yang membawa malapetaka," lanjut pernyataan tersebut.
Serikat pekerja juga meyakinkan para pembaca postingan tersebut, bahwa sudah saatnya pihak menajemen memahami bahwa mereka tidak bisa melakukan tindakan yang sembarangan.
Sebelumnya, pihak Ubisoft memutuskan untuk memecat beberapa karyawan dan membatalkan beragam game yang sedang dalam proses pembuatan, dalam rencana perombakan perusahaan. Hal itu jelas membuat para pekerja yang terdampak marah hingga menuntut perihal tersebut ke jalur hukum.