Dark Side Bisnis: Bagaimana “Good Branding” Bisa Menutupi Praktek Buruk
- VIVA
Fenomena ini disebut dengan halo effect, yaitu kecenderungan menilai keseluruhan perusahaan hanya berdasarkan satu citra positif yang ditonjolkan. Akibatnya, banyak konsumen akhirnya menjadi “butiran debu” dalam permainan persepsi ini.
Contoh Kasus di Dunia Nyata
Banyak perusahaan besar yang sempat tersandung kasus meski memiliki branding luar biasa kuat. Misalnya:
Perusahaan teknologi yang terkenal “ramah pengguna” ternyata terseret isu eksploitasi data pengguna.
-
Brand fesyen kelas dunia yang memasarkan konsep inklusivitas, tapi produknya terbukti berasal dari praktik sweatshop.
Bisnis kosmetik yang gencar mempromosikan cruelty-free, padahal masih bekerja sama dengan pihak ketiga yang melakukan uji coba pada hewan.
Semua contoh tersebut menunjukkan bahwa branding bisa menjadi pedang bermata dua: membangun kepercayaan sekaligus menyamarkan kebenaran.
Dampak Jangka Panjang
Memang, good branding bisa menutupi praktik buruk dalam jangka pendek. Namun, di era keterbukaan informasi, kebohongan atau manipulasi cepat terbongkar. Ketika hal itu terjadi, dampaknya bisa sangat merusak: hilangnya kepercayaan konsumen, boikot massal, bahkan kebangkrutan.