Dark Side Bisnis: Bagaimana “Good Branding” Bisa Menutupi Praktek Buruk

Ilustrasi Bisnis.
Sumber :
  • VIVA

Fenomena ini disebut dengan halo effect, yaitu kecenderungan menilai keseluruhan perusahaan hanya berdasarkan satu citra positif yang ditonjolkan. Akibatnya, banyak konsumen akhirnya menjadi “butiran debu” dalam permainan persepsi ini.

Contoh Kasus di Dunia Nyata

Bisnis Musiman yang Selalu Menguntungkan: Dari Takjil Ramadan hingga Merchandise Pemilu

Banyak perusahaan besar yang sempat tersandung kasus meski memiliki branding luar biasa kuat. Misalnya:

  • Perusahaan teknologi yang terkenal “ramah pengguna” ternyata terseret isu eksploitasi data pengguna.

  • Mengoptimalkan Customer Journey untuk Meningkatkan Penjualan

    Brand fesyen kelas dunia yang memasarkan konsep inklusivitas, tapi produknya terbukti berasal dari praktik sweatshop.

  • Bisnis kosmetik yang gencar mempromosikan cruelty-free, padahal masih bekerja sama dengan pihak ketiga yang melakukan uji coba pada hewan.

Kesalahan Umum UMKM dalam Digital Marketing dan Cara Menghindarinya

Semua contoh tersebut menunjukkan bahwa branding bisa menjadi pedang bermata dua: membangun kepercayaan sekaligus menyamarkan kebenaran.

Dampak Jangka Panjang

Memang, good branding bisa menutupi praktik buruk dalam jangka pendek. Namun, di era keterbukaan informasi, kebohongan atau manipulasi cepat terbongkar. Ketika hal itu terjadi, dampaknya bisa sangat merusak: hilangnya kepercayaan konsumen, boikot massal, bahkan kebangkrutan.

Halaman Selanjutnya
img_title