Tentara Israel di Gaza Mulai Frustrasi

Ilustrasi Tentara Israel.
Sumber :
  • VIVA

VIVA Tangerang – Ketidakpastian yang melanda Tentara Israel terkait tujuan dan arah perang di Gaza semakin mencuat. Pada Kamis, 27 Maret 2025, ratusan perwira militer dan tentara cadangan Israel menulis surat kepada Kepala Staf Militer Eyal Zamir, mengungkapkan rasa frustrasi mereka karena pasukan yang terlibat dalam konflik di Jalur Gaza kini menghadapi situasi yang disebut "kekacauan tanpa tujuan yang jelas." Surat tersebut, yang dikirim oleh sejumlah tentara, menjadi sorotan publik karena dianggap sebagai tindakan yang jarang terjadi dalam institusi militer yang biasanya tertutup.

Pembatasan Ketat Akses Warga Palestina ke Masjid Al-Aqsa Berlanjut

Dalam suratnya, para tentara mendesak Zamir untuk segera menetapkan tujuan yang jelas dalam melanjutkan operasi militer di Gaza. Mereka juga meminta agar batas waktu yang pasti ditetapkan untuk mencapai misi yang sedang dijalankan. Keluhan ini mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat di kalangan tentara Israel yang merasa bingung dan tidak puas dengan arah dari konflik yang terus berlarut-larut.

Laporan dari otoritas penyiaran Israel, KAN, menyebutkan bahwa surat ini merupakan bentuk protes yang cukup jarang terjadi dalam militer Israel. Ketidakpastian yang dirasakan oleh tentara ini juga mencerminkan keresahan yang lebih luas terkait dampak perang yang telah berlangsung lebih dari setahun di Gaza.

Jepang Mulai Berikan Perawatan Medis untuk Warga Palestina: Sebuah Langkah Bersejarah

Gaza Palestina.

Photo :
  • VIVA

Pada bulan Februari 2025, harian Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa sekitar 170 ribu tentara Israel, termasuk ribuan pasukan cadangan yang baru kembali dari medan perang, telah terdaftar dalam program perawatan psikologis yang disediakan oleh Kementerian Pertahanan Israel. Ini menunjukkan dampak psikologis yang signifikan dari perang yang berkepanjangan, yang tampaknya semakin memperburuk kondisi mental dan emosional pasukan yang terlibat.

Desakan Internasional untuk Menghentikan Serangan Israel di Gaza: Kecaman dan Protes Meningkat

Serangan udara yang dilancarkan oleh militer Israel pada 18 Maret 2025 menambah ketegangan lebih lanjut. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 855 orang dan melukai hampir 1.900 lainnya. Selain itu, serangan ini juga mengakhiri gencatan senjata yang sempat tercapai serta menghancurkan perjanjian pertukaran tahanan antara Israel dan gerakan perlawanan Hamas yang telah dimulai pada Januari 2025. Tindakan militer ini semakin memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza, yang sudah lama mengalami penderitaan.

Warga Palestina di Gaza.

Photo :
  • VIVA

Sejak perang besar pecah pada Oktober 2023, lebih dari 50 ribu warga Palestina, mayoritas di antaranya perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas akibat serangan militer Israel. Selain itu, lebih dari 113 ribu orang mengalami luka-luka. Konflik yang semakin brutal ini telah menuai kecaman internasional, termasuk dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang pada November 2024 mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan mantan Kepala Pertahanan Israel, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel kini juga menghadapi gugatan terkait genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), yang menyelidiki tindakan mereka dalam invasi ke Gaza. Sementara itu, di dalam negeri, tentara dan warga sipil Israel terpecah dalam pandangan mereka mengenai keberlanjutan dan tujuan dari konflik ini. Kebijakan militer yang tidak jelas semakin memperburuk moral pasukan, yang menghadapi tantangan besar baik di medan perang maupun dalam menghadapi kritik internasional.

Dalam situasi yang semakin suram ini, ketidakpastian mengenai tujuan perang dan masa depan konflik Gaza menjadi masalah yang semakin sulit dijawab, baik bagi militer Israel maupun bagi dunia internasional yang terus memperhatikan perkembangan situasi ini dengan cemas. (Antara)

Penduduk Gaza Palestina antre makanan.

Photo :
  • VIVA