Viral Bukan Berarti Benar: Bahaya Microtargeting Bagi Pemilih Muda
- Freepik
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA yang diposting di VIVA Tangerang yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
--------------------
Di Indonesia, tantangan ini semakin berat karena tingkat literasi digital kita yang masih belum merata. Ketika big data bertemu dengan teknologi generative AI, hasilnya adalah kampanye yang bisa memanipulasi realitas.
oleh: Bintang Sukma Mardianto
VIVA Tangerang – Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap politik Indonesia telah bergeser dari panggung-panggung fisik ke ruang-ruang algoritma. Jika dahulu kampanye politik bersifat “pukul rata” melalui baliho dan iklan televisi, kini kita memasuki era presisi yang cukup menakutkan yakni microtargeting. Dengan pemanfaat teknologi semacam big data, para kontestan politik kini mampu memetakan preferensi, kecemasan, hingga hobi kita demi mengirimkan pesan yang sangat personal ke layar ponsel masing-masing.
Namun, di balik efisiensi teknologi ini, muncul pertanyaan yang cukup krusial: Apakah microtargeting ini benar-benar mencerdaskan pemilih dalam menentukan pilihannya, atau justru malah “menyetir” partisipasi publik kita menuju demokrasi yang dangkal?
Manipulasi di Balik Personalisasi
Cara kerja dari microtargeting adalah dengan mengolah data jejak digital kita. Setiap menyukai suatu postingan di media sosial, pencarian di Google, hingga durasi menonton short video seperti Tiktok dan Reels pun dapat dikonversikan menjadi profil psikografis. Data ini memungkinkan tim sukses untuk melakukan segmentasi yang sangat tajam.
Di satu sisi, ini tampak positif karena pemilih mendapatkan informasi yang relevan dengan kebutuhannya. Namun, sisi gelapnya adalah terciptanya “ruang gema” (echo chamber). Algoritma cenderung menyuapi kita dengan informasi yang hanya kita sukai atau yang memvalidasi ketakutan kita. Akibatnya membuat si pemilih untuk tidak lagi terpapar pada perdebatan kebijakan yang sehat, melainkan terjebak dalam narasi yang terfragmentasi atau memiliki kebiasan. Partisipasi pemilih yang seharusnya didasari oleh pertimbangan rasional atas program kerja, perlahan bergeser menjadi reaksi emosional yang dipicu oleh stimulasi algoritma.
Dampak terhadap Kualitas Pemilih