Mengapa Kecemasan Sering Muncul di Malam Hari? Ini Penjelasan Ahli dan Cara Mengatasinya

Ilustrasi Depresi.
Sumber :
  • VIVA

VIVA Tangerang – Banyak orang menganggap malam hari sebagai waktu terbaik untuk beristirahat setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari. Namun bagi sebagian orang, suasana yang seharusnya tenang justru menjadi momen munculnya rasa cemas, gelisah, dan pikiran berlebihan yang sulit dikendalikan. Kondisi ini ternyata memiliki penjelasan psikologis yang berkaitan dengan cara kerja otak dan sistem saraf.

img_title Merokok dan Minum Alkohol Bisa Mempercepat Penuaan Otak, Ini Penjelasannya

Dilansir Hindustan Times, pendiri sekaligus Direktur Gateway of Healing, Dr. Chandni Tugnait, menjelaskan bahwa kecemasan yang sering muncul pada malam hari bukanlah tanda kelemahan pribadi atau sekadar gangguan tidur biasa. Menurutnya, kondisi tersebut sering kali terjadi karena sistem saraf telah bekerja terlalu keras sepanjang hari dan baru memiliki kesempatan untuk memproses berbagai emosi ketika suasana mulai tenang.

Selama beraktivitas, banyak orang disibukkan oleh pekerjaan, tugas, notifikasi ponsel, media sosial, hingga berbagai tuntutan kehidupan sehari-hari. Kesibukan tersebut membuat otak terus menerima rangsangan tanpa memiliki cukup waktu untuk beristirahat atau mengolah tekanan yang dialami. Akibatnya, ketika malam tiba dan gangguan mulai berkurang, pikiran yang sebelumnya terabaikan justru muncul kembali ke permukaan.

img_title Sulit Tidur Tengah Malam? Andrew Huberman Ungkap Gerakan Mata Sederhana untuk Membantu Otak Lebih Rileks

Menurut Tugnait, salah satu penyebab utama kecemasan di malam hari adalah otak yang tidak mendapatkan ruang untuk memproses emosi sepanjang siang. Aktivitas yang padat membuat seseorang terus bergerak dari satu tugas ke tugas lainnya tanpa sempat memahami atau melepaskan tekanan yang dirasakan. Ketika suasana menjadi sunyi, berbagai kekhawatiran yang tertunda akhirnya muncul secara bersamaan.

Selain itu, faktor hormonal juga berperan besar dalam memicu kecemasan pada malam hari. Stimulasi berlebihan selama beraktivitas dapat membuat hormon stres, terutama kortisol, tetap berada pada tingkat yang tinggi. Padahal secara normal, kadar hormon ini seharusnya menurun menjelang waktu tidur agar tubuh dapat beristirahat dengan optimal.

img_title Sering Tidur Hanya 6 Jam? Ini Dampaknya bagi Fungsi Otak

Saat kadar kortisol masih tinggi, sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga. Tubuh seolah-olah merasa sedang menghadapi ancaman meskipun sebenarnya tidak ada bahaya nyata. Akibatnya, seseorang dapat merasakan jantung berdebar, pikiran terus aktif, sulit rileks, hingga mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak.

Halaman Selanjutnya
img_title