Amazon Siap Gantikan 600 Ribu Pekerja dengan Robot
- ANTARA
VIVA Tangerang – Raksasa e-commerce global Amazon dilaporkan sedang mempercepat upaya otomatisasi besar-besaran yang berpotensi mengurangi lebih dari 600.000 pekerjaan di Amerika Serikat dalam dekade mendatang. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional di tengah pertumbuhan pesat volume penjualan.
Mengutip laporan The Verge yang diterbitkan pada Kamis (24/10), dokumen internal Amazon menunjukkan bahwa perusahaan menargetkan untuk mengotomatisasi hingga 75 persen proses operasionalnya. Dengan penerapan sistem robotika dan kecerdasan buatan (AI), Amazon diprediksi mampu menggandakan kapasitas penjualannya hingga tahun 2033, namun dengan jumlah tenaga kerja yang jauh lebih sedikit.
Data dari dokumen yang diperoleh The New York Times mengungkapkan bahwa fase pertama proyek otomatisasi ini akan berlangsung hingga 2027, dan dapat menghilangkan sekitar 160.000 posisi kerja di berbagai fasilitas Amazon di AS. Perusahaan menargetkan penghematan biaya sekitar 30 sen untuk setiap produk yang diproses dan dikirim ke pelanggan. Jika dihitung secara keseluruhan, efisiensi dari program ini dapat mencapai 12,6 miliar dolar AS selama periode 2025 hingga 2027.
Namun, langkah ambisius ini juga menimbulkan kekhawatiran besar terkait masa depan tenaga kerja. Menurut laporan tersebut, Amazon kini tengah menyiapkan strategi komunikasi publik untuk mengurangi dampak negatif dan kekhawatiran masyarakat terhadap rencana otomatisasi besar ini. Salah satu pendekatan yang sedang dipertimbangkan adalah menghindari penggunaan istilah “AI” atau “otomatisasi”, dan menggantinya dengan istilah yang lebih halus seperti “teknologi canggih” atau “cobot” — robot yang bekerja berdampingan dengan manusia.
Meski demikian, Amazon membantah bahwa pihaknya telah menetapkan kebijakan komunikasi seperti yang disebutkan dalam laporan tersebut. Kelly Nantel, juru bicara Amazon, menegaskan bahwa dokumen yang bocor hanya menggambarkan pandangan satu tim internal dan tidak mencerminkan strategi resmi perusahaan.
“Dokumen yang beredar sering kali menampilkan informasi yang tidak lengkap dan menyesatkan. Faktanya, kami justru masih aktif melakukan rekrutmen di berbagai fasilitas di seluruh Amerika Serikat, termasuk rencana pembukaan 250.000 posisi baru menjelang musim liburan,” ujar Kelly dalam pernyataannya.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan teknologi robotika di Amazon bertujuan meningkatkan keselamatan dan kenyamanan kerja, bukan sepenuhnya menggantikan peran manusia. Selain itu, perusahaan memastikan bahwa keterlibatannya dalam kegiatan sosial masyarakat tidak terkait langsung dengan proyek otomatisasi tersebut.